Kamis, 29 Mei 2008

Foto di kapal menuju Gilimanuk Bali (episode turing Bali)





Akhirnya sampai di Pulau Bali (episode turing Bali)


Mampir di kota Situbondo cukup lama, sekitar 30 menit hingga 1 jam. Terus berangkat lagi deh menuju Banyuwangi. Terasa lelah sekali perjalanan menuju Banyuwangi ini, coz jalanannya lurus terus, sepertinya g sampai-sampai perjalanan ini. Melihat papan penunjuk jalan, Banyuwangi dipanahkan lurus ke-atas, aku pikir ah sebentar lagi sampai Banyuwangi, jalan beberapa kilometer kemudian ada penunjuk jalan lagi Banyuwangi panah ke atas yang artinya lurus terus, wah belum sampai juga toh. Lewat lagi ada ada penunjuk jalan Banyuwangi masih lurus terus, aduh-aduh kok g sampai-sampai ya. Posisi bawa motor saat itu sudah berbagai gaya dicobain, coz bujur alias bokong terasa panas sekali menempel terus di jok motor, dari posisi lurus kedepan, geser dikit miring ke kanan, ke kanan pegel, geser lagi ke tengah, tengah pegel, geser ke kiri, sampai berdiri bawa motor dah dilakuin semua, tapi kok g sampai juga Banyuwangi. Cape rasanya badan ini hehe..tapi semangat terus menggebu-gebu, karena lihat di peta antara jarak kota situbondo ke banyuwangi g terlalu jauh, hehehe..namanya juga peta sejengkal pun g sampe ;p.
Perjalanan dari kota Situbondo menuju Banyuwangi ini yang kurasa paling melelahkan, ya mungkin kumulatif dari perjalanan2 sebelumnya, karena badan belum direbahin lagi alias tidur. Tidur terakhir hanya di kota Semarang tepatnya di Ungaran, habis itu g tidur-tidur lagi, bawa motor terus sepanjang hari, pegel punggung, bokong panas, tangan pegel tarik gas, tarik kopling, kaki pegel nginjek rem, ganti persneleng, ya Allah kapan sampainya di Banyuwangi.
Ada hal menarik selama perjalanan menuju Banyuwangi, kebetulan si izul bilang, kita akan melewati tengah hutan yang panjangnya sekitar 40 km, habis hutan itu kita dah sampai di Banyuwangi. Wah makin semangat aja kan mau sampai di Banyuwangi. Setelah jalan beberapa lama, akhirnya sampai juga di hutan yang si izul ceritakan. Sebenarnya itu sebuah proyek taman wisata atau apa gitu, aku lupa waktu baca ada plangnya, "Anda memasuki wilayah taman bla bla", aku pikir ini mah bukan taman, tapi hutan. Luar biasa gelapnya, sampai-sampai karena kebetulan motorku kalo ada jalan agak naik kalo g dikebut motor bakalan tersndat jalannya, lagipula boncengan juga sama pa malih. Ya sudah dua motor dibelakang buckman sama izul aq susul, aku kebut si macana lewati hutan yang gelap gulita. Juga g habis pikir, gimana kalo motor ini mogok atau ban bocor, coz sama sekali ga ada bengkel ataupun rumah penduduk di hutan ini, tidak bisa dibayangkan deh pokoknya tantangannya hehehe. Kecepatan si macan 80-100 kpj (kilometer per jam) di hutan tersebut, sudah tidak peduli tengok kanan kiri belakang, yang penting kebut terus. Suasana di hutan itu memang agak mencekam, karena motorku sendiri yang lewat, ada beberapa mobil pribadi yang lewat, tapi jaraknya jauh sekali. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan deh pokoknya hehehe.
Selagi si macan berlari hingga 100 kpj, terlihat ada gapura yang bertuliskan "Selamat datang di Kabupaten Banyuwangi", alhamdulillah ku berkata dalam hati, akhirnya sampai juga Banyuwangi. Hutan sudah terlewati, sekarang aku tinggal menunggu buckman dan izul yang tertinggal jauh di belakang. Tak lama berselang 5-10 menit mereka sampai juga, dan perjalanan dilanjutkan kembali.
Aku pikir pelabuhannya tinggal di depan sedikit dekat gapura selamat datang itu, g taunya masih jalan lagi beberapa kilometer, waduh belum sampai juga toh. Tapi ketika melihat ada dermaga disana dan kapal-kapal laut, akhirnya kami tiba di pelabuhan Ketapang kabupaten Banyuwangi. Bayar tiket masuk untuk motor Rp 12.500, untuk orangnya Rp 5.000 saja, dan setelah itu naiklah kita ke kapal menuju pelabuhan Gilimanuk Pulau Bali, mantap bro.
Alhamdulillah sampai juga diri ini ke Pulau Bali, maklum baru sekali ke Bali, naik motor lagi ke Balinya hehehe...(to be continued)

Foto di PLTU Paiton, Probolinggo (episode turing Bali)




Mampir lagi di PLTU Paiton (episode turing Bali)


Habis makan rawon nguling, kita lanjut lagi perjalanan menuju Denpasar Bali. Ketika melewati pesisir pantai, kami lihat ada pembangkit listrik disana. Ada sekitar 3-4 menara disana, pemandangan yang indah sekali. Tiba di PLTU Paiton sekitar jam 17.30 wbp (waktu bagian probolinggo), singgah sejenak sambil foto-foto, maklum baru sekali ke PLTU Paiton, jadi kan sayang kalo g diabadikan hehe...
Menurut wikipedia, PLTU ini memiliki 6 unit pembangkit listrik
  • Unit 1 & 2 dengan kapasitas paling kecil, yakni 800MW dimiliki dan dioperasikan oleh PJB Paiton.
  • Unit 5 & 6 berkapasitas 1260MW dimiliki oleh Jawa Power dan dioperasikan oleh YTL Jawa Timur.
  • Unit 7 & 8 memiliki kapasitas 1200MW dimiliki oleh Paiton Energy Co dan dioperasikan oleh PT. International Power Mitsui Operation & Maintenence Indonesia (IPMOMI).
begitu sekilas mengenai pembangkit listrik tenaga uap Paiton. Oh iya, pembangkit listrik ini menggunakan bahan bakar batubara sebagai energinya.
Habis dari pembangkit listrik paiton ngasoh plus foto-foto, perjalanan berlanjut kembali. Hari menjelang malam, kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi, hanya terlihat 1-2 mobil yang lewat, itu pun berselang lama antara mobil 1 dengan yang lainnya. Perjalanan melewati kecamatan Besuki, Pasir putih, Semiring, dan akhir tiba di kota Situbondo. Seperti biasa sampai kota ini kembali lagi istirahat, sambil beli makanan, minuman untuk persediaan di perjalanan. Ngomong-ngomong banyak banget istirahatnya ya, maklum cape banget, pegel, bosen naik motor, tapi asik juga kok, kalo ada yang mijitin di motor mungkin ga secape kayak gini kali ya ;p(to be continued...)

Cari tempat makan jauh banget sampe ke Probolinggo (episode turing Bali)


Habis mampir sebentar di Porong, perjalanan dilanjutkan kembali menuku kota Probolinggo. Rencananya mau makan dulu di Porong, tetapi karena mengejar waktu yang sudah sore hari, akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali. Teman kami si izul bilang, nanti aja makannya deket dari sini (dari porong maksudnya), ya sudah kita ikut apa kata si izul aja coz dia katanya sudah pernah lewat jalur ini cuma naik mobil. Perjalanan sudah jauh sekali, cacing di perut yang awalnya nyanyi keroncongan sampai nyanyi heavy metal, tempat makan yang ditunjukin si izul belum sampai juga. Ini deketnya orang mana ya, katanya deket tapi perjalanan hampir 50 km, itu warung makan belum nongol juga.
Akhirnya disela-sela macetnya jalan ke Probolinggo karena jalanannya kecil, dah gitu yang lewat truk dan kontainer lagi, sampai juga ke warung makan itu. Ga taunya warung makan Rawon Nguling, ga sia-sia deh jauh-jauh cari tempat makan, coz enak banget masakannya hehe..promosi kali ya.(to be continued....)

Foto daerah Porong korban lumpur lapindo (episode turing Bali)




Sore hari di daerah tragedi lumpur lapindo Porong (episode turing Bali)

Akhirnya sampai juga mampir ke tragedi lumpur lapindo, yang g berhenti2 menyemburkan lumpurnya hingga saat ini. Alangkah kagetnya ketika melihat yang dulunya desa makmur tentram, telah berubah menjadi sebuah danau akibat terkena semburan lumpur lapindo. Ini musibah, adzab, atau berkah ya??? Lumpurnya sih dah di dasar danau, menjadi danau dikarenakan areal semburan lumpur panas ditahan oleh tanggul2 setinggi kurang lebih 10 meter, sehingga air hujan tergenang di dalam area tanggul tersebut. Konon kabarnya 2 hari setelah pulang dari Bali, tanggul yang kami naiki untuk melihat fenomena lumpur panas jebol lagi, ga bisa dibayangkan bagaimana jadinya itu kalo tanggul jebol, karena pas sekali pinggir jalan raya Porong. ckckckck....lapindo...lapindo, kok malah dibebankan ke pemerintah yang notabene menggunakan uang rakyat juga untuk ngurusin hasil ulahmu, padahal kan big bosmu tuh orang kaya nomor 1 di Indonesia, semoga Allah memberikan kesabaran, ketabahan, dan jalan keluar bagi para korban lumpur lapindo, amin.